Karya Ilmiah

SMK BERBASIS TEKNOLOGI INFORMASI SEBAGAI SOLUSI PENAGGULANGAN KEMISKINAN PERKOTAAN(Studi Implementasi di SMKN 4 Malang) 

Oleh: Dewi Rohmah *) 

Penelitian ini bertujuan memahami penanganan kemiskinan berbasis kelembagaan lokal yang berbeda dengan penanganan kemiskinanan yang dilakukan sebelumnya. Penelitian ini difokuskan pada aspek input, proses, dan hasil capaian penelitian. Penelitian dilakukan melalui pendekatan kualitatif (pemahaman, pandangan, dan tanggapan) para informan di lapangan yang menghasilkan data deskriptif, yakni gambaran implementasi program di lapangan secara sistematis dan faktual. Data tersebut diperoleh melalui wawancara mendalam dengan para informan, disamping studi dokumentasi, dan observasi. Penentuan informan dilakukan secara purposive sampling, yakni atas dasar penilaian bahwa para informan mengetahui secara baik pemasalahan yang sedang diteliti. Untuk itu, informan dalam penelitian ini adalah kepala lembaga lokal, waka lembaga lembaga, aktivis pendidikan, dan pemuka masyarakat.

Alasan:

  • Sulitnya untuk mendapat pekerjaaan, serta angka pengangguran yang tinggi merupakan akar dari muara permasalahan kemiskinan negara ini, apalagi ditunjang dengan tinginya angka putus sekolah pada usia sekolah dengan alasan tidak mampu membiayai pendidikan menjadikannya menjadi awal dari gejala sosial. Kemiskinan merupakan sesuatu yang menjadi momok penghambat bagi pembangunan Indonesia. Kapanpun dan dimanapun usaha telah banyak yang dilakukan demi terwujudnya kesejahteraan masyarakat yang berkesinambungan. Usaha-usaha yang dilakukan pemerintah untuk mengentaskan kemiskinan hanya berkutat pada bantuan yang bersifat konsumtif. Pemberian bantuan dana diberbagai bidang baik ekonomi, maupun pendidikan secara tidak langsung menimbulkan ketergantungan yang bukan menjadi solusi tetapi menjadi beban deretan masalah. Memang tidak dipungkiri peran serta pemerintah setempat sangat menentukan kebijakan atas bantuan yang diberikan. Tapi itu bukan jalan yang aman untuk mengentaskan kemiskinan. Pada studi kasus pengentasan kemiskinan yang berbasis pada kucuran dana terjadi banyak distorsi yang sangat disesalkan kejadiannya.
  • Kesalahan algoritma kemiskinan di negeri ini banyak disebabkan tidak ratanya persepsi tentang visi dan misi warga dalam mengentaskan kemiskinan. Pengejawantahan tentang pentingnya memerangi kemiskinan tidak diimbangi dengan niat ikhlas dan bersih dalam pelaksanaannya.Keberhasilan menyamakan persepsi warga setempat memang bukan hal yang mudah. Tindakan tersebut juga dipengaruhi oleh tingkat pendidikan warga masyarakat itu sendiri. Jika tingkat pendidikan rendah, wawasan minimal, dan analisis terhadap suatu masalah rendah maka siapkanlah rancangan kegagalan untuk setiap solusi pengentasan kemiskinan. Pendidikan individu yang dimulai sejak dini menjadi sangat penting peranannya. Agar Sumber Daya Manusia (SDM) pribadi meningkat dengan cepat, dibutuhkan kesadaran untuk memerangi kebodohan dan kemiskinan dalam diri sendiri terlebih dahulu. Bekal yang tidak gampang karena meluruskan niat untuk maju tidak semudah membalikkan telapak tangan. Apa yang menjadi issu terkini harus dikuasai jika tidak ingin menjadi SDM yang tertinggal. Kompetensi tiap individu harus disertai elaborasi tentang pengetahuan teknologi informasi yang bersifat global. Kajian teori dan praktik harus imbang jika ingin menghasilkan kualitas yang unggul di segala bidang.  Lembaga yang dapat mengcover semua itu hanyalah lembaga pendidikan, yang notabene dapat menempa putra-putra bangsa sejak dini hingga akhirnya akan menjadi calon-calon pemimpin yang berdikari. Dalam hal ini sekolah yang dapat membekali siswa baik secara teori maupun praktek secara bersamaan adalah Sekolah Menengah Kejuruan. Berdasarkan riset yang dilakukan oleh LSM dan PTN di Jawa Timur, kendala utama yang dialami dalam hal memerangi kemiskinan adalah masalah SDM, Pendekatan dan metodologi yang tidak pas, kelembagaan yang tidak memahami aspirasi masyarakat, dan kebijakan yang otoriter. Sebab yang utama masalah bangsa adalah bersumber dari minimnya sumber daya manusia. Dalam hal ini pendidikan menjadi sasaran utama dalam mengentaskan kemiskinan. Penyiapan SDM yang memadai merupakan konstruksi dasar dalam pemberantasan kemiskinan. Sebagai langkah lanjutan, sistem pendidikan yang akhirnya menjadi sasaran utama menjadi perbaikan dalam menyiapkan SDM yang berkualitas dan berdikari. Sistem layanan pendidikan yang hanya menggunakan teori dan sedikit praktek masih bayak diterapkan dalam sistem pendidikan menengah saat ini. Pada kenyataannya, hal itu sangat merugikan out put siswa. Ketidak mampuan siswa dalam memanfaatkan potensi diri ketika first graduate merupakan awal dari kelemahan SDM kita. Sekolah yang tidak dapat membekali alumninya dengan keahlian baik ketika pada saat di sekolah maupun di luar jam pelajaran, lama kelamaan akan ditinggalkan oleh masyarakat.Seiring dengan perkembangan teknologi, sekolah yang dapat mencetak kualitas dan kuantitas yang membekali siswa dengan berbagai kemampuan sangat dibutuhkan. Untuk itulah diperlukan sekolah kejuruan yang nantinya diharapkan dapat memberikan bekal yang cukup untuk mengembangkan kemampuan SDM siswa ketika sudah keluar dari sekolah. Kemampuan yang tidak hanya sekedar dapat mencari lowongan dan diterima berkerja tetapi juga dapat menciptakan lowongan kerja sendiri.
  • Salah satu cara mengatasi krisis SDM di bidang Teknologi Informasi adalah dengan menghasilkan SDM di setiap tingkat. Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) merupakan sekolah yang diharapkan dapat menghasilkan tenaga yang siap pakai. Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Berbasis Teknologi yang akan menjadi incaran utama di masa sekarang ini. Kesadaran masyarakat tentang semakin mengguritanya sistem teknologi dan informasi menjadikan semakin mantapnya pilihan untuk membekali putra-putrinya dengan keterampilan adaptif, formatif dan normatif yang mantap. 

SMK Berbasis TI

Sekolah, dalam pengertian sempit bisa dipahami sebagai lembaga yang mendidik anak-anak untuk mengetahui sesuatu yang semula dia tidak tahu sehingga menjadi tahu. Sekolah juga melatih anak-anak melakukan sesuatu yang semula tidak dia lakukan untuk membentuk perilakunya.SMK-TI adalah Sekolah Menengah Kejuruan yang memberdayakan pembelajaran dengan sistem teknologi informasi. Baik pembelajaran di dalam kelas (pada saat proses belajar mengajar) atau di luar kelas (ekstrakurikuler). Jurusan apapun yang disediakan dalam sekolah asalkan didukung dengan teknologi informasi itu sudah dapat dikatakan sebagai Sekolah Berbasis TI. Teknologi informasi tidak hanya terbatas pada teknologi komputer (perangkat keras dan perangkat lunak) yang digunakan untuk memproses dan menyimpan informasi, melainkan juga mencakup teknologi komunikasi untuk mengirimkan informasii (Martin,1999). Namun bisa juga dikatakan sekolah yang menggunakan teknologi informasi yaitu menggabungkan komputasii (komputer) dengan jalur komunikasi berkecepatan tinggi yang membawa data, suara, dan video (Williams dan Sawyer, 2003).SMK-TI dapat menghasilkan tenaga kerja tingkat menengah di bidang teknologi informasi untuk memenuhi kebutuhan Pembangunan Nasional dan daerah setempat, baik saat ini maupun dimasa yang akan datang sejalan kecenderungan era globalisasi.

Studi Implementasi di SMKN 4 Malang

Penelitian ini difokuskan pada studi implementasi pada salah satu SMK Negeri yang ada di Malang. Berdasarkan sejarah berdirinya sekolah-sekolah kejuruan di Malang, SMKN 4 Malanglah yang dikenal sebagai SMK-TI. Pada tahun 1999, SMK Negeri 4 Malang memiliki e-mail (alamat surat elektronik) resmi perdana sebagai sarana komunikasi langsung dengan Direktorat Dikmenjur. Pada waktu itu belum banyak sekolah atau perguruan tinggi yang memiliki e-mail. Inilah babakan penting yang di kemudian hari mengantarkan SMK Negeri 4 Malang lebih dikenal di Indonesia sebagai SMK Grafika sekaligus SMK Teknologi Informasi dan Komunikasi. Perkembangan di mulai sejak implementasi Jaringan Internet (Jarnet) tahun 2000, kemudian berturut-turut Jaringan Informasi Sekolah (JIS) Kota Malang tahun 2001, Penerimaan Siswa Baru (PSB) Online tahun 2002, Wide Area Network (WAN) Kota Malang tahun 2003, ICT Center Kota Malang tahun 2004, SMK Besar tahun 2005, Televisi Edukasi (TVE) Kota Malang tahun 2005, SMK Bertaraf Internasional tahun 2006, dan Client ICT Center Kota Malang tahun 2006. Dari serangkaian program di atas dapat disimpulkan bahwa perhatian dan kepercayaan Depdiknas Pusat cq Direktorat Pembinaan SMK kepada Teknologi Informasi dan Komunikasi di SMK Negeri 4 Malang sangat tinggi dan berkesinambungan hingga hari ini. Kurikulum baru biasanya diikuti pula oleh perubahan paradigma, hal ini berlaku juga ketika Kurikulum SMK (Grafika) Edisi 2004. Paradigma baru yang menyertai implementasi kurikulum ini adalah perubahan dari: [1] supply oriented menjadi market oriented;
[2] siswa ketergantungan menjadi mandiri/otonom;
[3] siswa pasif belajar menjadi siswa aktif belajar;
[4] kelonggaran waktu menjadi disiplin waktu;
[5] toleran terhadap kegagalan menjadi kegagalan adalah hal fatal;
[6] kegiatan simulasi menjadi kegiatan nyata;
[7] tamat belajar menjadi lulus dan kompeten.
Pada proses penyusunan Kurikulum SMK Edisi 2004 untuk program keahlian Persiapan Grafika dan Multimedia di Puncak, Bogor pada tahun 2003 yang lalu, Direktorat Dikmenjur mengundang dan menyertakan 2 orang guru SMK Negeri 4 Malang dalam Tim Penyusun Draft Kurikulum SMK Edisi 2004 bidang Grafika dan TIK. Pada kesempatan itu guru-guru kami – berdasarkan SKKNI atau Standar Kompetensi Nasional (SKN) Grafika dan perkembangan teknologi grafika – mencoba untuk memproyeksikan program keahlian di bidang keahlian Grafika menjadi 3, yaitu program keahlian: Pracetak, Cetak dan Purnacetak sebagaimana lini Prepress, Press dan Postpress yang ada di perusahaan atau industri grafika, namun hal ini tidak mendapat persetujuan penyelia Tim Penyusun Kurikulum SMK Edisi 2004 karena berdasarkan peta sarana dan prasarana praktik di SMK-SMK Grafika – baik negeri maupun swasta – belum memungkinkan disetarakan dengan yang ada di perusahaan atau industri grafika saat itu.Namun demikian kesertaan 2 guru di dalam tim tersebut cukup membantu SMK Negeri 4 Malang, setidaknya sosialisasi dan persiapan dalam menyongsong implementasi Kurikulum SMK Edisi 2004 dapat dilakukan lebih dini dibanding SMK-SMK Grafika atau SMK Multimedia lainnya. Penataan ke dalam dilakukan secara sistemik untuk mendukung implementasi Kurikulum SMK (Grafika) Edisi 2004 yang diberlakukan pada tahun pelajaran 2004/2005. Beberapa langkah strategis dilakukan oleh manajemen SMK Negeri 4 Malang, diantaranya:[1] Sosialisasi internal Kurikulum SMK (Grafika & TIK) Edisi 2004;
[2] Pendistribusian dokumen kurikulum kepada para guru normatif, adaptif dan produktif;
[3] Penyusunan modul untuk di sekolah dan di industri;
[4] Penyusunan silabus;
[5] Pembuatan Skill-Passport (Paspor Kecakapan);
[6] Pembuatan form Kartu Hasil Studi (KHS); dan
[7] Pembuatan buku Raport model KBK.
Untuk memudahkan implementasi Kurikulum SMK Edisi 2004, maka langkah-langkah di atas kemudian diikuti dengan sejumlah pendekatan sistem yang melandasinya, diantaranya sistem:[1] Academic atau manajemen pendidikan model semi perguruan tinggi;
[2] Life Skills (LS) atau Kecakapan Hidup;
[3] Broad Based Curriculum (BBC) atau Kurikulum Berbasis Luas; dan
[4] Competency Based Curriculum (CBC) atau Kurikulum Berbasis Kompetensi.
Sedangkan untuk memudahkan dan mengefektifkan proses transformasi ilmu pengetahuan dan keterampilan kepada peserta didik, maka SMK Negeri 4 Malang memilih pendekatan metode pendidikan dan pelatihan model Competence Based Training (CBT) atau Pelatihan Berbasis Kompetensi dan Product Based Training (PBT) atau Pelatihan Berbasis Produk. Untuk itu ditetapkanlah sejumlah strategi untuk mensukseskannya, yaitu melalui program:[1] Learning by doing (Belajar sambil berkarya);
[2] Mastery learning (Belajar tuntas);
[3] Individualized learning (Belajar individual);
[4] Group learning (Belajar kelompok); dan
[5] Modular system (Sistem modul)
 SMKN 4 malang memiliki fasilitas yang memadai, sarana dan prasarana yang tersedia saat ini untuk mendukung kegiatan belajar mengajar di SMK Negeri 4 Malang antara lain adalah: 25 ruang kelas
– 4 bengkel kerja Persiapan Grafika
– 4 bengkel kerja Produksi Grafika
– 2 bengkel kerja Multimedia
– 1 bengkel kerja Rekayasa Perangkat Lunak
– 1 bengkel kerja Animasi
– 2 laboratorium KKPI
– 1 laboratorium Bahasa Asing
– 1 ruang Perpustakaan
– 1 Stasiun Relay dan Studio TV Edukasi Kota Malang
– 1 ruang konferensi (ICT Center Kota Malang)
Selain sarana dan prasarana di atas, tersedia pula layanan internet 256 kbps 24 jam untuk mendukung kinerja 210 unit komputer yang terjaring dalam intranet SMK Negeri 4 Malang.Strategi yang ditempuh sekolah untuk mempersiapkan output siswa yang berkualitas adalah sebagai berikut.1. Pengembangan Sumber Daya Manusia, meliputi:[1.1] Meningkatkan promosi kompetensi siswa melalui Praktik Kerja Industri (Prakerin) Khusus di Lembaga Tinggi & Tertinggi Negara;
[1.2] Meningkatkan kecakapan komunikasi bahasa Inggris guru dan karyawan melalui Preparasi dan Tes TOEIC International dengan target rerata skor diatas 500;
[1.3] Mengukur kompetensi siswa dalam kecakapan komunikasi bahasa Inggris melalui Tes TOEIC International dengan target rerata skor di atas 500;
[1.4] Mengukur kompetensi siswa dalam Keterampilan Komputer dan Pengelolaan Informasi (KKPI);
[1.5] Meningkatkan (upgrading) kecakapan dan memutakhirkan (updating) wawasan guru produktif melalui program On the Job Training di perusahaan dan industri grafika dan multimedia, baik di dalam maupun di luar negeri;
[1.6] Menambah wawasan dan pengetahuan siswa, guru dan karyawan tentang perkembangan mutakhir teknologi grafika dan multimedia melalui kunjungan ke Pameran/Expo Grafika dan Multimedia, baik di dalam maupun di luar negeri;
[1.7] Menyiapkan tim siswa berprestasi dan potensial untuk menjuarai Lomba Kompetensi Siswa tingkat Nasional 2007; dan
[1.8] Sertifikasi Kompetensi dan Assessor bagi guru produktif.
2. Pengembangan Sumber Daya Sarana & Prasarana, meliputi:[2.1] Meningkatkan kwalitas proses belajar dan mengajar – yang menarik dan menyenangkan – berbasis multimedia melalui penyediaan perangkat LCD Data Projector dan Wallscreen permanen di bengkel-bengkel kerja bidang keahlian Grafika dan ruang-ruang kelas;
[2.2] Meningkatkan kesehatan, kesegaran dan kebugaran jasmani siswa, guru dan karyawan melalui penyediaan Gymnasium berikut peralatannya; dan
[2.3] Menambah sarana praktik grafika berupa mesin digital printing, imagesetter, platesetter, dan cetak offset ukuran medium.
3. Pengembangan Sumber Daya Infromasi & Komunikasi, meliputi:

[3.1] Mengembangkan fasilitas intranet dan internet di SMKN 4 Malang untuk mendukung program edukasi dan administrasi berbasis Teknologi Informasi dan Komunikasi;
[3.2] Meningkatkan kwalitas dan profesonalitas guru dengan penggunaan Notebook (Laptop) sebagai alat bantu belajar dan mengajar;
[3.3] Mengembangkan fasilitas intranet nirkabel (wireless) antara SMKN 4 Malang dengan 40 sekolah (client) untuk mendukung program e-Learning  di Kota Malang; dan

e-Learning adalah pendidikan jarak jauh. Pembelajaran tidak hanya dapat di lakukan dengan suasana kelas di mana guru dan siswa bertemu. Pembelajaran dapat dilaksanakan dengan mengakses modul-modul dari jarak jauh. Begitu juga dengan pengiriman tugas dan berdiskusi. Para siswa dapat mengatur waktu untuk belajar, kapan saja dan di mana saja.
 [3.4] Melengkapi komputer dengan perangkat lunak standar yang berlisensi dan legal sebagai wujud kesadaran hak atas kekayaan intelektual.4. Pengembangan Kemitraan Nasional & Internasional, meliputi:[4.1] Menjalin dan membina kemitraan nasional dan internasional dalam hal Prakerin & Penyaluran Tamatan SMKN 4 Malang di dalam dan di luar negeri;
[4.2] Menjalin dan membangun kemitraan dalam hal Pengembangan Sarana dan Prasarana SMKN 4 Malang dengan Alumni.
Demikian apa yang telah, sedang dan akan dikembangkan di SMK Negeri 4 Malang. Pihak sekolah juga telah menjalani external auditing oleh lembaga sertifikasi internasional untuk Sertifikat ISO 9000:2001. Inilah komitmen sekolah untuk memberikan layanan pendidikan yang prima dan berkwalitas sekaligus berkwantitas, tidak saja untuk peserta didik dan orang tua siswa dari Kota Malang, tetapi juga dari seluruh Indonesia dan juga dari negara lain. Hal-hal tersebut di atas menjadi alasan pendukung studi implementasi objek penelitian ini.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: